Rahmat Saripudin's Weblog

for Better Education

Prinsip-prinsip Belajar Pada Pembelajar Andragogi

pada Februari 15, 2011

Knowles, Holton dan Sanson (1998) mengungkapkan lima asumsi bagi pembelajar andragogi. Kelima asumsi tersebut adalah:

Pertama, Pembelajar tahu apa yang dibutuhkan

Kedua, Pembelajar sudah memiliki konsep dan aturan sendiri sesuai pengalaman

Ketiga, Pembelajar memiliki kesiapan belajar

Keempat, Pembelajar memiliki orientasi pada belajar

Kelima, Pembelajar memiliki motivasi internal untuk belajar

Penulis mencoba menguraikan implikasi kelima asumsi tersebut bagi upaya melakukan rekayasa pembelajaran untuk pembelajar orang dewasa.

Pertama, Pembelajar tahu apa yang dibutuhkan

Ketika kita melakukan sebuah rancangan pembelajaran bagi orang dewasa, misalnya pelatihan, tentu dengan segera mengadakan pengumuman ke target peserta pelatihan yang dirancang. Mereka yang tertarik akan datang sendiri, dan bagi mereka yang belum tertarik tentu tidak akan datang mengikuti kegiatan tersebut. Dengan demikian, saat kita melakukan perancangan pembelajaran bagi orang dewasa maka asumsi yang dikedepankan adalah peserta hadir dalam acara karena tahu yang dibutuhkannya ada dalam acara tersebut.

Prinsip ini juga memberikan informasi kepada perancang instructional bahwa pembelajar yang akan hadir dalam kegiatan setidaknya:

a) Pembelajar tahu mengapa ia belajar ditempat tersebut

b) Pembelajar tahu keuntungan yang akan diperoleh dari apa yang akan dipelajarinya

Dari asumsi pertama ini kemudian dapat berimplikasi bahwa tutor/pengajar dapat mengajak pembelajar untuk berdiskusi terkait topik yang akan dibahas.

Kedua, Pembelajar Sudah Memiliki Konsep dan Aturan Sendiri sesuai Pengalaman

Pembelajar orang dewasa adalah mereka yang sudah memiliki pengalaman hidup yang panjang. Mereka telah banyak belajar dari pengalaman hidup yang telah dilewatinya, baik dari proses belajar formal maupun proses belajar informal. Pengalaman hidup dan hasil belajar yang panjang tersebut kemudian akan melahirkan persepsi tertentu terhadap sebuah penomena. Artinya, pembelajar dewasa secara umum telah memiliki pola pikir tersendiri terhadap objek maupun subjek yang akan dipelajarinya.

Misalnya, saat kita akan mengadakan penyuluhan bertani cabai di pedesaan, umumnya para peserta telah memiliki persepsi dan mind set tentang bertani cabai, berdasarkan pengalaman yang pernah dilaluinya. Mungkin ada peserta yang sudah merasakan gagal bertani cabai dia akan mencoba mencari tahu selama penyuluhan apa yang menyebabkan kegagalan panen yang pernah dialaminya. Dan bisa saja dia akan membandingkan setiap langkah yang dijelaskan penyuluh dengan langkah-langkah yang pernah dilakukannya.

Dengan latar belakang pengalaman yang sudah dimiliki tersebut, kemungkinan akan memberikan dua dampak yaitu pembelajar sudah memiliki persepsi baik atau buruk terhadap pembelajaran yang akan diikuti dan bisa saja peserta menjadi resisten terhadap nilai-nilai baru yang dibawa oleh fasilitator atau tutor.

Implikasi yang kemudian perlu diperhatikan dalam pembelajaran orang dewasa dengan basis asumsi kedua ialah proses pembelajaran harus benar-benar dapat mentransformasikan “nilai lama” kepada “nilai baru” melalui refleksi maupun studi kasus.

 

Ketiga, Pembelajar Memiliki Kesiapan Belajar

Pembelajar orang dewasa setidaknya mengetahui untuk apa dia mengikuti pembelajaran yang dilaksanakan. Dengan demikian maka pembelajar orang dewasa asumsinya menjadi lebih memiliki kesiapan belajar. Dengan memiliki kesiapan belajar maka, pembelajar dewasa akan memiliki kesiapan mental. Biasanya juga pembelajar orang dewasa sudah menemukan gaya belajar yang cocok bagi dirinya. Implikasi dari asumsi ini ialah pembelajar orang dewasa dapat diberikan “beban belajar” dan dapat diajak diskusi.

 

Keempat, Pembelajar Memiliki Orientasi Belajar

Pembelajar orang dewasa ketika memutuskan mengikuti sebuah aktivitas pembelajaran yang bersangkutan sudah memiliki arah dari pilihannya. Terhadap apa yang dipelajarinya, Pembelajar orang dewasa umumnya ingin melihat bahwa apa yang dipelajari dapat diaplikasikan di dunia nyata. Selain itu pembelajar orang dewasa biasanya ingin melihat bahwa apa yang dipelajarinya dapat membantu menyelesaikan masalah-masalah keseharian yang dihadapi olehnya.

Implikasi dari asumsi keempat iala pembelajar orang dewasa lebih mudah diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan

 

Kelima, Pembelajar memiliki motivasi internal untuk belajar

Saat pembelajar orang dewasa memutuskan untuk mengikuti sebuah pembelajaran, maka dapat disimpulkan bahwa keikutsertaannya didasarkan pada kesadaran dirinya bahwa ia tahu manfaat yang akan diperoleh dari apa yang akan dipelajarinya. Dengan pembelajar mengetahui manfaat yang akan diperolehnya maka diasumsikan akan memberikan dorongan dari dalam diri berupa motivasi internal untuk mengikuti pembelajaran. Selanjutnya, dengan pengetahuan akan manfaat tersebut maka ia juga akan memiliki rencana terhadap apa yang akan dipelajarinya.

Implikasi dari asumsi kelima ini ialah pembelajar akan lebih mudah mencapai tujuan dan pembelajar bisa diajak kerjasama.

Selain asumsi-asumsi terhadap pembelajar orang dewasa, dalam perancangan pembelajaran bagi orang dewasa perlu juga mengenal prinsip-prinsip belajar.

Prinsip-prinsip Belajar menurut Gagne terdiri atas :

Contiguity

Prinsip ini menjelaskan bahwa stimulus yang diberikan harus berhubungan dengan respon yang diharapkan. Prinsip ini juga menekankan bahwa sebuah pembelajaran haruslah dirancang secara baik. Tujuan pembelajaran hendaknya ditentukan sejak awal sebelum pembelajaran berlangsung. Tujuan pembelajaran yang telah ditentukan kemudian akan menjadi driver dalam proses pembelajaran.

 

Repetition

Prinsip ini mengandung makna bahwa stimulus dan respon dalam pembelajaran seringkali memerlukan pengulangan untuk menjamin pasti bahwa tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan benar.

Dari prinsip ini pula kemudian dapat dikembangkan bahwa tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan perlu dijadikan pegangan dalam pelaksanaan pembelajaran. Selanjutnya perlu dilakukan pengecekan ulang atau penjelasan ulang sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan benar-benar tercapai.

 

Reinforcement

Reinforcement atau penguatan merupakan prinsip ketiga dalam prinsip belajar Gagne. Penguatan merupakan salah satu prinsip yang sangat penting dalam pembelajaran. Salah satu prinsip reinforcement mengungkapkan bahwa tujuan pembelajaran akan tercapai jika pembelajaran berlangsung dalam keadaan nyaman.

Reinforcement dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, mulai dari penataan lingkungan, penggunaan media, penggunaan komunikasi verbal dan non verbal dan aktifitas lain yang memberikan penguatan pada learner dalam meningkatkan pemahamannya terhadap apa yang dipelajari.

Implikasi dari prinsip ini ialah tutor atau fasilitator dalam pembelajaran orang dewasa harus sensntiasa memperhatikan berbagai macam factor yang memberikan penguatan serta harus terus berupaya memberikan penguatan agar tujuan pembelajaran tercapai.

 

Negosiasi makna

Belajar pada dasarnya adalah sebuah proses membangun makna. Seorang pembelajar pada dasarnya telah memiliki konsep atau makna tersendiri sebelum pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu maka dalam pembelajaran perlu dilakukan penyamaan persepsi terlebih dahulu untuk kemudian secara perlahan membangun kontruksi pemahaman baru. Mungkin menggantikan makna sebelumnya atau memperkuat makna ataupun meningkatkan makna yang telah ada.

Implikasi dari prinsip ini ialah bahwa dalam pembelajaran perlu dilakukan apersepsi terlebih dahulu.

 

 

Bagi mahasiswa STIT Nurul Fikri, tugas selanjutnya yang harus dilakukan adalah beri contoh implementasi dalam pembelajaran orang dewasa yang menerapkan asumsi pembelajaran andragogi menurut Knowles, dkk serta prinsip-prinsip belajar Gagne.


6 responses to “Prinsip-prinsip Belajar Pada Pembelajar Andragogi

  1. eka puspa delima mengatakan:

    saya sudah mencoba meninggalkan komentar tapi tidak terlihat komen saya..sudah masuk atau blm pak??

  2. rahmatsaripudin mengatakan:

    Saya cek tdk ada di wordpress. Kalau di email sih ada…

  3. eka puspa delima mengatakan:

    belum ada materi yang baru ya pak??

  4. rahmatsaripudin mengatakan:

    sudah ada, bisa dilihat…

  5. neli lisetiawati mengatakan:

    Pak reinforcement atau pnguatan seperti apa yang tepat untuk sebuah seminar ?? jazakallah

  6. Iin Mutholifah mengatakan:

    pak, apakah reward termasuk stimulus agar learner memiliki motivasi belajar?
    saya pernah baca,di salah satu handout MK lain, bahwa reward dapan mematian/menghambat kreativitas. apakah benar? jzkallah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: