Rahmat Saripudin's Weblog

for Better Education

Sekolah Dasar Kita: Kewajiban Siapa? Siapa yang jadi korban? Dari mana memulai?

pada Februari 2, 2011

oleh: Rahmat Saripudin

Suatu saat saya memberikan kuliah kepada para mahasiswa yang berlatar belakang Guru Sekolah Dasar di sekitar Bogor, saya tidak menceritakan Mahasiswa tersebut melainkan apa yang ada di sekolahnya.. dan sekolah kebanyakan rakyat Indonesia.

Dialog dimulai dari Manajemen Berbasis Sekolah yang sedang gencar-gencarnya digalakan oleh berbagai elemen pendukung pendidikan, sebagian besar dari Guru-guru tersebut tidak paham apa itu Manajemen Berbasis Sekolah. Bukan tidak paham definisi-nya, namun tidak paham seperti apa pelaksanaan semestinya. Salah satu implementasi MBS adalah memberikan kewenangan pada sekolah untuk melaksanakan berbagai program yang dimaksudkan untuk mencapai visi dan misi sekolah tersebut. Tapi tengoklah apa yang terjadi, visi yang agung terasa sulit diimplementasikan manakala realita tidak sejalan.

Sebutlah, sekolah mahasiswa tersebut memiliki visi mencetak generasi yang cerdas dan bertaqwa. Guru agak sulit mengimpelemntasikan visi tersebut. Disekolahnya satu kelas SD dengan ruang sekitar 56m2 dijejali anak dengan jumlah 60 orang!!! bahkan lebih.

Tengoklah Standar Nasional Pendidikan, yang dibuat pemerintah yang mensyaratkan luas ruangan 2 m2 per siswa dan jumlah maksimal 32 orang per kelas!!! bukan luas dan jumlah saja yang agar sulit dicerna.

Siswa kelas 1 SD misalnya, masuk jam 7 pulang jam 9. bayangkan dengan satu orang Guru, siswa begitu berjubel, dan waktu belajar 120 menit!!! buang usia dan buang potensi selama 1 tahun. Salah, ternyata bukan 1 tahun. ditahun ke-2, atau kelas 2 SD waktu dan kondisi berjalan tidak jauh berbeda.

ALLAH-hu rabbi,… dua tahun sudah anak-anak mengalami pembiaran potensi… ternnyata tidak… waktu terus berjalan sampai kelas 6… dan seterusnya.

Saya pernah melakukan penelitian di kawasan Sukabumi, kondisi demikian tampak di depan mata saat itu. Sekolah dengan 5 orang Guru termasuk di dalamnya Kepala Sekolah, padahal jumlah kelas ada 6…

Ini adalah sekedar penghantar, ada masalah besar yang kita hadapi saat ini. Mungkin benar kata teman, kondisi sekolah demikianI bukan saja di kampung-kampung, bahkan di jakarta atau sekitar jakarta yang hanya beberapa km dari Jalan Sudirman, tempat berbagai kebijakan pendidikan di keluarkan…

Pendidikan adalah hak seluruh rakyat, maka negara memiliki kewajiban untuk menyediakannya. bukan sekedar menggugurkan kewajiban, namun berilah pendidikan yang bermutu. Dimana pra syarat mencapai pendidikan bermutu wajib diberikan oleh pemerintah. Misalnya, untuk mencapai pendidikan bermutu perlu ruang kelas yang memenuhi standar kesehatan, ruang kelas yang memenuhi standar psikologi belajar, ruang kelas yang memberikan kesempatan Guru untuk menerapkan strategi terbaiknya… dan ini sebenarnya sudah ada dalam SNP… lantas apa? (kata iwan Fals) Kehendak sungguh-sungguh untuk menuntaskannya.. mungkin itu jawaban yang dibutuhkan… meski baru kehendak.

Terkait dengan menjamurnya sekolah-sekolah dengan standar mutu yang baik, sering juga disalah artikan oleh sebagaian besar masyarakat. Seringkali Sekolah Swasta yang menyediakan pendidikan baik dianggap tidak adil, padahal marilah kita lihat akar masalahnya. Berdirinya banyak sekolah swasta yang bermutu, dan berkonsekuensi pada biaya yang mahal (gedung yang harus dibangun, tanah yang harus dibeli, Guru yang harus digaji layak, media dan sumber belajar yang harus variatif dll) sering disalah artikan tidak peduli dengan anak-anak dari kalangan tidak berada. Padahal mestinya dilihat sebagai protes terhadap pemerintah yang tidak dapat memenuhi dan menyediakan sekolah publik (sekolah negeri) yang memenuhi standar mutu yang diharapkan. dan yang harus dituntut adalah PEMERINTAH!!!! bukan sekolah swasta, asalkan sekolah SWASTA tersebut sudah memenuhi kaidah-kaidah AKUNTABILITAS. misal sudah berani di audit oleh akuntan publik.

Kembali kita berbicara tentang sekolah untuk orang kebanyakan, kita tidak berbicara tentang sekolah alternatif yang digagas masyarakat dalam bentuk sekolah swasta. Karena sekolah negeri adalah sekolah yang mudah diakses dan menyebar hampir di seluruh Indonesia, maka user-nya tentu saja masyarakat Indonesia secara umum. Dalam Konteks ini maka kita bisa menyebut bahwa 85% adalah anak kaum muslimin yang 20 – 30 tahun yang akan datang akan menjadi penerus negeri ini… ini berarti, jika kondisi ini berjalan begitu saja, ada jutaan anak kaum muslimin yang sedang mengalami “pembiaran potensi”, sehingga jangan berharap jika kondisi kaum muslimin Indonesia di masa yang akan datang tidak jauh berbeda dengan saat ini. atau bahkan lebih mundur? karena negara lain sudah demikian maju, dan kita akan menjadi penonton….. apakah kita akan diam?

Tentu tidak, kita harus bergerak, kita harus memberikan kontribusi sekecil apapun yang bisa diperbuat. Tak mengapa orang lain tidak tahu, tak mengapa koran tidak menuliskannya, tak mengapa pemerintah tak pernah menyematkan gelar pahlawan. Cukuplah Allah, Rasul dan orang-orang beriman yang menjadi saksi atas apa yang kita perbuat…

Banyak peranan yang bisa dilakukan, mulai dari mengkoordinir sekolah-sekolah di sekitar kita untuk diberikan pencerahan, pendampingan dan perbaikan mutu. Bisa juga mulai dari mengumpulkan donasi dan buku sumbangan untuk disalurkan ke sekolah-sekolah sebagai tambahan sumber belajar.. syukur-syukur dana yang terkumpul mampu mengembangkan sekolah secara tersistematis, mulai dari SDM, sarana, manajemen dll dan mungkin banyak lagi yang bisa diperbuat.

Sekarang, saya dan anda akan berbuat apa?


2 responses to “Sekolah Dasar Kita: Kewajiban Siapa? Siapa yang jadi korban? Dari mana memulai?

  1. ima susanti mengatakan:

    Pak,saya juga punya pengalaman yang sama dengan bapak,saya dahulunya sekolah dikampung (Palembang ),dari kelas 1-6 saya merasa, saya tidak mendapatkan apa-apa dari sekolah yang saya tempati, karena dengan jumlah murid yang sekian banyaknya(kira-kira 80 siswa)dari kelas 1-6, itu hanya ada 7 orang guru,dan itu sudah termasuk kepala sekolah, ditambah lagi dengan satu orang guru yang jarang masuk karena dia tinggal jauh dari kampung saya. dan saya sebagai siswa merasa tidak puas dengan apa yang diberikan oleh bapak dan ibu guru saya pada saat itu, ditambah guru-gurunya hanya 2 orang yang layak sebagai guru,karena yang lainnya mengajar dengan sebisanya mereka saja,dengan kata lain mereka kurang pendidikannya.

    Saya berfikir coba kalau saat saat itu pemerintah perihatin dengan keadaan yang demikian itu, mungkin negara kita akan lebih baik, sehingga anak-anak merasa puas dengan apa yang diberikan atau di dapatkannya di sekolah oleh bapak atau bu guru.

    Ya Allah semoga pemerintah lebih memperhatikan lagi pendidikan di negeriku ini,khususnya di plosok-plosok yang kurang sama sekali perhatian pemerintah, tapi sampai saat ini sekolah tersebut tidak jauh beda dengan yang dahulu.Ya Allah berniat semoga saya nanti bisa merubah keadaan sekolah saya itu akan lebih baik,amain….

  2. rahmatsaripudin mengatakan:

    amien…
    sebaiknya kita segera berbuat dari apa yang kita mampu perbuat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: