Rahmat Saripudin's Weblog

for Better Education

Hendak dibawa kemana Sekolah Dasar di negeri ini?

pada Februari 2, 2011

oleh: Rahmat Saripudin

Sebuah renungan terhadap SD almamater…

 

Kamis siang, 20 januari 2011 lalu saya melewati SD, tempat saya bersekolah tahun 1983 – 1989. Sekolah tersebut tampak tidak terawat padahal masih banyak siswa yang sedang belajar. Saya tidak melihat perpustakaan yang ramai seperti waktu saya SD dulu. Mungkin, jangankan ramai, wong perpustakaannya saja tidak tampak.

Saya coba mengumpulkan serpihan ingatan, dimasa itu…..

 

Namanya Iim Ibrahim Rukimat, orang-orang menyebutnya pak Iim. beliau adalah kepala Sekolah yang, subhanallah…. Punya idealisme, Guru sejati, dan punya visi yang jelas ingin seperti apa anak didiknya kelak. Saat itu saya SD kelas V, adalah kebiasaan beliau melibatkan siswa dalam kegiatan-kegiatan sekolah, saya dipanggil untuk sebuah amanah baru: menjadi PENJAGA PERPUSTAKAAN… sebuah jabatan yang sudah saya idam-idamkan saat itu. Mengapa? karenajabatan ini memungkinkan saya selalu ngepos di perpustakaan. Pekerjaannya adalah: merapihkan buku, mencatat buku baru, melayani peminjaman dan pengembalian dan senantiasa stay di perpustakaan saat tidak sedang belajar di kelas. dan juga ada keuntungan lebih…. bisa baca buku apa saja dan berapa saja….

suasana tersebut kini tak tampak….. wong perpustakaannya saja saya tak lihat….

 

Beliau, pak Iim adalah kepala sekolah yang senantiasa memotivasi kami untuk terus berprestasi… saya ingat betul saat SD kelas I diajarkan calistung oleh beliau… salah tidak disalah-salahkan, betul mendapatkan pujian… plus tantangan soal baru yang lebih menantang…

 

Beliau, pak Iim adalah kepala sekolah yang senantiasa punya ide menarik pada zamannya dan out of the box.. saat kelas V, ada teman saya yang belum bisa mengkonversi dari gram ke kilogram, dari ons ke kilogram dan sejenisnya. Unik, beliau meminta dua orang teman saya yang tidak bisa tersebut berangkat ke warung yang berbeda dan disuruh membeli barang dengan sebutan satuan yang berbeda… sebut saja teman saya si A, disuruh membeli 500 gram gula pasir, dan 1 kg beras.. teman saya yang lain ke warung yang berbeda disuruh membeli 5 ons gula pasir dan 1000gram beras… mereka ke warung.. dan belajarlah tentang konversi satuan di warung.. hasilnya… teman saya punya pengalaman kuat tentang konversi satuan dan bisa menyelesaikan masalah satuan.. itu terjadi sekitar awal tahun 1988….

 

Beliau, pak Iim namanya yang senantiasa memastikan kami harus terus belajar, jika ada Guru yang tidak hadir karena satu dan lain hal.. maka beliau totalitas menggantikannya…..

 

mungkin banyak lagi kisah yang serpihannya belum dapat saya kumpulkan..

 

namun, kini saya tidak melihat kondisi tersebut di SD almamater..

 

Sepertinya, tidaklah mungkin kita menyalahkan Kepala sekolah yang sekarang memimpin, karena dia lahir dari sebuah proses. Dan jika dia memang tidak layak dipersalahkan, karena bukan hanya satu SD yang mengalami kondisi demikian, tapi disekolah-sekolah lain di Kuningan sana cukup mudah kita temukan..

 

padahal, usia SD adalah usia yang sangat strategis untuk memaksimalkan fungsi otak, melatih keterampilan berpikir, menanamkan karakter pembelajar, membentuk karakter, dan sebagainya… lantas.. jika usia ini dibiarkan berlalu seiring perjalanan waktu.. apa yang nanti akan diperoleh? siapa kemudian yang bertanggung jawab?

 

GELISAHh!!! ya, kita harus gelisah – sementara DPR ribut dengan gedung baru, pemimpin negeri ribut dengan kenaikan gaji (padahal 2 milar perbulan cukup untuk mengentaskan ketidakberdayaan ribuan sekolah), KORUPSI PAJAK, dan triliunan rupiah uang tidak jelas juntrungannya.. baik oleh penguasa maupun pengusaha rekannya penguasa… – disisi lain banyak anak-anak kehilangan masa keemasannya, kehilangan masa potensi berkembang karena minimnya perhatian dan stimulus..

 

ya ALLAH, berilah kami kekuatan dalam berbuat memperbaiki negeri ini…

 


One response to “Hendak dibawa kemana Sekolah Dasar di negeri ini?

  1. Luluk Pamungkas mengatakan:

    Subhanallah, menyentuh sekali cerita Pak Iim, jadi mengingatkan saya sama guru SD namanya Pak Diono, mirip dengan Pak Iim yang selalu mengajar dengan keikhlasan tinggi….Semoga Allah senantiasa mengingatkan warga DPR untuk berjuang demi rakyat dengan keikhlasan tinggi seperti para guru yang tetap semangat walau penghasilan tak sebanding dengan harga 1 baju anggota DPR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: