Rahmat Saripudin's Weblog

for Better Education

IOM ITB: Tamparan Keras Bagi Orangtua

pada Agustus 14, 2009

Kamis, 13 Agustus 2009 | 19:24 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com – Kasus perjokian ujian Seleksi Nasional Mahasiswa Perguruan Negeri (SNMPTN) yang berakibat dipecatnya 12 mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) adalah tamparan keras bagi orangtua. Perlu ada refleksi untuk mencegah terulangnya kasus serupa di kemudian hari.

“Kami, sebagai orangtua, sungguh merasa kecolongan. Ini (kasus perjokian) menandakan ada sesuatu hal yang tidak bisa diantisipasi, diperkirakan sebelumnya, oleh kami. Apalagi, anak-anak ini ternyata anak-anak yang tidak nakal, bahkan cenderung polos,” ujar Ketua Ikatan Orangtua Mahasiswa (IOM) ITB Akmasj Rahman dalam acara Pertemuan IOM ITB, Kamis (13/8).

Hal tersisa yang bisa dilakukan hanyalah mengambil hikmah dan instropeksi lebih dalam atas kejadian ini. Artinya, orangtua harus lebih baik dalam berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan anaknya. “Tidak bisa anak dilepas begitu saja. Tetap perlu ada kendali dari orangtua supaya anak tidak sampai melakukan sesuatu atas dasar kepentingan sesaat saja,” tuturnya.

Supaya ini bisa terjadi, dimana mahasiswa bersedia melakukan konsultasi dengan orangtuanya dalam berbagai hal, maka perlu tercipta komunikasi dua arah yang baik antara keduanya. Inilah yang selama ini sering dipandang sebagai masalah. Harus ada diskusi dan dialog. Anak (mahasiswa) harus bebas, tetapi tetap terkendali, ucapnya memberi tips.

“Dalam kesempatan ini, Arief Rachman, pakar pendidikan yang juga Anggota Kehormatan IOM ITB menuturkan, hubungan antara pelajar-mahasiswa dan orangtua harus seperti teman. Jangan seperti polisi,” tuturnya.

Terkait kasus perjokian ITB yang memberikan tamparan keras bagi orangtua, Arief mengatakan, organisasi IOM ITB harus bisa berfungsi sebagai katalisator.

“Kalau alasannya karena persoalan ekonomi, harus dipikirkan bagaimana ada mekanisme subsidi silang atau beasiswa. Tetapi, seringkali yang terjadi, mahasiswa yang tidak mampu akhirnya semakin terpuruk dan akhirnya gagal karena tidak mampu menyerap informasi tentang ini,” ucapnya kemudian.

Deklarasi anti-menyontek

Rektor ITB Djoko Santoso menuturkan, peran orangtua itu sangatlah penting dalam membentuk karakter baik anak. “Sebagian besar pertemuan anak didik kan dengan orang tua. Kami (dosen) kan hanya ketemu sesekali. Untuk itu, sinergi perguruan tinggi dan orangtua sangat penting,” ucapnya.

Menurutnya, faktor kejujuran adalah hal yang tidak kalah penting dalam membentuk intelektualitas. Terkait hal ini, ia menyambut baik tindakan para mahasiswa baru ITB yang melakukan deklarasi anti-menyontek di hadapan Pimpinan ITB dan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Haryono Umar di hari yang sama di Sabuga ITB.

“Ini tindakan yang sangat menggembirakan. Meski masih baru, mereka berniat untuk memiliki integritas tinggi,” ujarnya.


One response to “IOM ITB: Tamparan Keras Bagi Orangtua

  1. wahyu am mengatakan:

    ckckckkc, perjokiannn…😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: