Rahmat Saripudin's Weblog

for Better Education

Belajar dari Bulan Sabit dan Bulan Purnama

pada Maret 8, 2009

oleh: Rahmat Saripudin

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (Q.S Al Imron; 190)

Aku teringat sebuah moment di awal Muharram tahun ini. Malam itu langit tampak cerah, awan putih tampak indah dengan disinari rembulan di awal bulan hijriah. Aku sedang berjalan pulang dari mushola di komplek kami bersama anakku. Aku tunjukan pada anak-ku; “nak lihat lah rembulan itu, tampak indah bukan?” Anakku menjawab; “ya, tapi kenapa bulan tampak seperti itu? Kenapa tidak utuh”.. aku jawab; “itu namanya bulan sabit”.

Kami sama-sama merasakan cahaya temaram yang dipancarkan bulan sabit tersebut. Ya, ini adalah pekan pertama di bulan Muharram. Bulan belum tampak sempurna, kebetulan malam ini langit cerah tidak seperti malam-malam sebelumnya, langit tampak gelap dengan gerimis menyertai malam.

Ya, bulan sabit itu memang tidak sesempurna purnama, cahayanya tidak sekuat bulan sempurna itu. Namun, keberadaanya dalam “cacat wajah” membawa keindahan tersendiri. Dengan “keterbatasan” yang dimiliki, dia tetap member arti, mampu menerangi malam yang tampak hening itu.

Aku jadi berpikir,.. “apakah kita menunggu “sempurna” untuk dapat memberi arti pada orang di sekitar kita?” Padahal bagi kita, sangatlah sulit mencapai kesempurnaan, dan tidak akan pernah tercapai. Padahal bulan purnama bukan tampak cacat. Ya, dia tampak indah dalam pandangan, namun perhatikan dengan seksama, masih ada kekurangan “penampilan” di sana? Meskipun ia dapat memberi cahaya yang jauh lebih besar dari bulan sabit.

Jadi marilah kita belajar untuk dapat menghargai perbedaan, menghargai kekurangan, memberi apa yang kita miliki semaksimal yang kita punya dan menghargai kekurangan orang lain yang ada pada diri mereka, karena sesungguhnya mereka dapat member arti pada kita.

Meskipun, bisa jadi mereka hanya mampu mendo’akan kita atau bahkan hanya bisa “meminta bantuan” kita… yang – kalaupun mereka kita bantu – sesungguhnya ALLAh-lah yang membantu mereka melalui tangan kita.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat kepada orang lain” (H.R al-Qadha’i dari Jabir)

Bulan sabit itu bisa jadi adalah tetangga kita, “simpatisan” kita, rakyat kecil, tukang becak, suami, istri, anak-anak kita atau orang lain di sekeliling kita yang tidak kita kenal, mereka tetap dapat member arti pada kita, meski hanya mampu mendo’akan kita. Meski mereka tak seperti “bulan purnama” yang indah itu…

(renungan 4 Maret 2009)


7 responses to “Belajar dari Bulan Sabit dan Bulan Purnama

  1. ikak mengatakan:

    pengalaman religius pak…???

  2. rahmatsaripudin mengatakan:

    Pengalaman apa ya? mungkin bisa dikatakan demikian, kalau saya menyebutnya tadabur..

  3. ikak mengatakan:

    Saya siswa bapak yang ikut atpem di semester 3 di UT lho pak

  4. rahmatsaripudin mengatakan:

    oh, ya.. nama samaran ya? aliasnya?

  5. ikak mengatakan:

    iya pak, hari minggu nanti saya test modul 123 IPa…
    tapi saya belum belajar, hehehehe…
    soal nya jangan susah-susah ya pak….

  6. ikak mengatakan:

    pak Rahmat, ini alamat e-mail saya yang baru :
    ikakhuwa@yahoo.co.id
    kalau b’sedia Bapak hub. saya, kita akan bahas berbagai topik oke,,,,,…thanks ya Pak….

  7. tipsbisnisuang mengatakan:

    memberi arti bagi orang lain adalah jalan menuju kesempurnaan. Begitu kata beberapa sahabat..salam kenal.

    salam sempurna !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: