Rahmat Saripudin's Weblog

for Better Education

PENDAYAGUNAAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI UNTUK PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

pada Oktober 4, 2008

Oleh: Rahmat Saripudin

Masuknya teknologi komunikasi ke Indonesia dimulai sejak masuknya radio pada jaman penjajahan Belanda. Sekitar tahun 1930-an beberapa orang pribumi ada yang mulai mengoperasikan amatir radio. Pada tahun 1945, proklamasi kemerdekaan RI disiarkan keseluruh dunia dengan menggunakan pemancar radio yang dibuat sendiri oleh amatir radio. Bagian yang juga penting dalam teknologi komunikasi ialah komputer. Komputer masuk ke Indonesia dalam rentang waktu 1970 – 1972. Kemudian mulai tahun 1972 PUSILKOM UI mulai melakukan kegiatan operasional komputasi di lingkungan kampus UI. Kemudian setelah itu, pada tahun 1975 mulai dioperasikannya SKSD Palapa sebagai tanda dimulainya era teknologi telekomunikasi.

Dengan masuknya teknologi komunikasi dalam beragam bentuk, tentu akan memunculkan dampak yang beragam. Dampak yang dimunculkan bisa berakibat positif maupun negatif. Dampak positif misalnya berbagai kejadian di belahan dunia dapat disaksikan langsung oleh penduduk di belahan dunia lain. Hal lain misalnya sebuah temuan ilmu pengetahuan dapat dengan mudah di realease ke internet untuk kemudian dibaca oleh berbagai orang dari berbagai negara. Namun demikian, dampak negatifnya juga tidak sedikit. Menyebar dan mewabahnya aksi pornografi, penyebaran berita palsu dan pembodohan masyarakat merupakan kenyataan yang dihadapi oleh kemajuan teknologi komunikasi dan informasi saat ini.

Dari sudut pandang pendidikan, masuknya teknologi komunikasi dan informasi dapat dijadikan modal pembangunan pendidikan. Beberapa permasalahan pendidikan yang dihadapi, seperti (1) dinamika global yang membawa tuntutan perubahan dan persaingan yang semakian tajam, (2) keadaan geografis Indonesia yang terdiri dari kepulauan, (3) penyebaran penduduk uang terpusat di pulau jawa, (4) kemampuan, kelamahan, peluang maupun permasalahan yang melekat pada teknologi itu sendiri (5) terbatasnya jangkauan pendidikan tatap muka konvensional yang bersifat formal. Maka keberadaan media telekomunikasi dan informasi menjadi sangat strategis.

Bahkan Daniel Lerner, seorang ahli komunikasi ternama, pernah mengatakan bahwa salah satu dampak teknologi informasi yaitu menyebabkan terjadinya percepatan sejarah . Teknologi informasi juga telah mengakibatkan “hilangnya” batas nyata antar negara. Berkembangnya teknologi satelit dan internet membantu manusia untuk mengetahui apa yang terjadi di belahan benua lain. Sebagai contoh, runtuhnya gedung WTC pada 11 September 2001 diketahui dan disiarkan oleh hampir seluruh stasiun televisi di seluruh dunia.

Salah satu bentuk produk Teknologi Informasi dan Komuikasi adalah internet yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan di ambang abad 21. Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat mengakses dunia global untuk memperoleh informasi dalam berbagai bidang dan pada glirannya akan memberikan pengaruh terhadap perilakunya.

Dalam beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi revolusi internet di berbagai negara serta penggunaannya dalam berbagai bidang kehidupan. Keberadaan internet pada masa kini sudah merupakan satu kebutuhan pokok manusia modern dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan global. Kondisi ini sudah tentu akan memberikan dampak terhadap corak dan pola-pola kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Begitu pula dalam dunia pendidikan, penggunaan internet telah berkembang cukup luas. Mulai dari peran promosi lembaga pendidikan, media pembelajaran bahkan ujian atau test telah dapat dilakukan melalui internet.

Namun demikian, realita yang ada saat ini dalam penggunaan teknologi komunikasi dan informasi belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pembangunan pendidikan masyarakat. Ambil contoh, televisi sebagai media yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat dan dipandang sebagai salah satu kekuatan yang punya kontribusi dan peran menentukan dalam politik sebuah negara , hampir tidak memuat program-program yang membantu peningkatan taraf dan mutu pendidikan.

Jika dilihat dari perjalanan pembangunan pendidikan, telah ada beberapa program yang mengarah pada pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi. Sebagai contoh misalnya pendirian SMP Terbuka, SMA Terbuka hingga Universitas Terbuka. Gagasan awal pendirian Televisi Pendidikan Indonesia (kini TPI) merupakan salah satu itikad baik pemerintah untuk mendayagunakan televisi dalam pembangunan pendidikan. Namun demikian, konsistensi dan upaya peningkatan kualitas program tidak berjalan dengan baik. Bahkan cenderung tambal sulam atau bahkan digantikan dengan program-program baru yang lebih mengarah pada pengerjaan proyek semata.

Di masa yang akan datang, Teknologi Informasi dan Komunikasi harus digiring menjadi instrumen terpadu dalam pembangunan pendidikan untuk terwujudnya manusia Indonesia yang sejahtera dan berkeadilan. Untuk itu maka ada beberapa tahapan yang perlu terus diperjuangkan yaitu:

1. Penyiapan Regulasi
Salah satu entry point dalam proses transformasi budaya bangsa ialah pengadaan regulasi. Untuk itulah maka DPR dan pemerintah perlu bersama-sama mengeluarkan regulasi yang mendukung terlaksananya pembangunan pendidikan melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi. Regulasi yang perlu diperhatikan dan diperjuangkan diantaranya memastikan bahwa semua industri yang terlibat dalam dunia TIK (seperti radio, TV, internet, VCD) memiliki muatan pendidikan. Misalnya pada industri televisi, pemerintah perlu mengeluarkan regulasi yang mewajibkan penyelenggara siaran untuk menyiarkan acara bernuansa pendidikan pada jam dimana sebagian besar masyarakat menonton TV. Kebijakan lain misalnya iklan layanan masyarakat yang berkenaan dengan pendidikan mendapatkan harga khusus.

Regulasi lain yang perlu dibuat ialah memastikan segala macam tayangan yang ada dan berkenaan dengan dunia TIK serta diakses oleh semua kalangan terhindar dari unsur-unsur yang bersifat tidak mendidik. Regulasi yang juga perlu dikembangkan ialah memastikan bahwa setiap kota-kota, fasilitas umum, taman kota dan perkantoran menyediakan akses internet gratis untuk keperluan peningkatan wawasan. Penyediaan buku murah maupun karya ilmiah berbasis elektronik perlu dikembangkan namun dengan tetap memperhatikan hak cipta dan potensi untuk berkembang.

Regulasi yang juga perlu diperjuangkan ialah memastikan semua industri yang berkecimpung dalam teknologi informasi baik internet, televisi, radio dan lainnya, senantiasa memasukan muatan-muatan pendidikan dalam agenda hariannya. Yang dimaksud dengan muatan pendidikan dapat bermakna agenda yang secara khusus dibuat untuk proses pendidikan atau agenda lain yang di dalamnya mengandung pesan-pesan pendidikan. Regulasi tentang muatan pendidikan hendaknya juga disusun dengan memperhatikan kearifan budaya lokal yang ada. Sehingga akan terjadi pembatasan siaran televisi nasional, kemudian menjadi lebih banyak siaran televisi lokal.

2. Pembangunan sarana prasarana
Salah satu daya dukung yang juga sangat diperlukan ialah memastikan tersedianya sarana-prasarana TIK untuk pendidikan. Pemerintah perlu berupaya agar di setiap sekolah dan lembaga penyelenggara pendidikan terhubungkan dengan jaringan internet, multi media dan televisi. Perlu dicarikan upaya yang seksama dan berkelanjutan agar pembangunan sarana-prasarana TIK dalam peningkatan mutu pendidikan dapat tercapai.

3. Penyiapan SDM
Salah satu permasalahan yang ada dalam penggunaan TIK untuk pendidikan ialah kurangnya SDM yang kompeten. Ketiadaan SDM mulai dari penyedia software, pengguna (user) dan pengelola. Terkait dengan ketersediaan software, saat ini sudah ada dipasaran software baik dalam bentuk program interaktif, film-film animasi maupun pengayaan lainnya. Namun demikian, dalam konteks pendidikan dan pembelajaran, produk-produk tersebut tidak dapat dihubungkan secara langsung. Ada kebuntuan informasi antara produk yang ada dengan kebutuhan untuk pembelajaran. Di sisi lain, guru selaku pengguna TIK masih banyak yang gagap terhadap teknologi teresebut. Dengan demikian penydiapan SDM terkait dengan pemanfaatan TIK untuk pendidikan menjadi agenda yang sangat perlu diperhatikan.

4. Pembentukan budaya “ramah media”
Tahapan yang juga perlu diperhatikan dalam pemanfaatan TIK untuk pendidikan ialah pembentukan budaya ramah media. Budaya ramah media yang dimaksud ialah masyarakat pendidikan mengetahui, mengenal dan dapat menggunakan media sebesar-besarnya untuk kemajuan bangsa melalui pendidikan. Dalam konteks ini masyarakat diharapkan dapat menyeleksi sendiri program, agenda dan acara yang relevan dengan kemajuan pendidikan.

Untuk membentuk budaya tersebut maka banyak hal yang perlu dibuat, mulai dari regulasi, strategi implementasi dan evaluasi program. Banyak hal yang sudah dibuatkan regulasinya namun lemah dalam implementasi. Seteleh diimplementasi masih juga perlu dievaluasi untuk melihat efektivitas dan efisiensi dari program yang dimaksud. Dari evaluasi tersebut diharapkan adanya upaya perbaikan (continuos improvement).

Dengan terlaksananya tahapan pemanfaatan TIK untuk pendidikan tersebut maka diharapkan dimasa yang akan datang akan terwujud:

1. Pendidikan yang bersifat open access sehingga siapa saja dapat menikmati proses pendidikan dengan beragam media teknologi informasi yang ada

2. Terbentuknya kerjasama yang sinergis antar lembaga penyelenggara pendidikan, lembaga penyelenggara industri media untuk meningkatkan mutu pendidikan

3. Tersedianya akses bersama terhadap sumber informasi pengetahuan sehingga terwujud sharing knowledge.

4. Terwujudnya masyarakat “ramah media”.

Referensi

Ade Armando. The Return of the Authoratarian Rule, (www.capstrans.edu.au/resources/ conferences/2007/iceaps2007-papers/ade-armando.pdf)

http://duniaradio.blogspot.com/2008/02/sejarah-radio-di-indonesia.html

http://euismarlina.edublogs.org

Jonathan L Parapak, dkk. Jaringan dan Sistem Informasi Nusantara 21: Kerangka Konseptual. Jakarta: YLTI 1998.

Mohamad Surya. Potensi Teknologi Informasi Dan Komunikasi Dalam Peningkatan Mutu Pembelajaran Di Kelas, http://eko13.wordpress.com/2008/04/12/potensi-teknologi-informasi-dan-komunikasi-dalam-peningkatan-mutu-pembelajaran-di-kelas/

Purwanto, Jejak Langkah Perkembangan Teknologi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: PUSTEKOM DEPDIKNAS, 2005

Yusufhadi Miarso. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta: Prenada Media, 2004


One response to “PENDAYAGUNAAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI UNTUK PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

  1. Pasa Firaya, ST mengatakan:

    Berkunjung dan baca infonya, mudah-mudahan bermanfaat bagi banyak orang, sukses ya.
    I Like Relationship.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: