Rahmat Saripudin's Weblog

for Better Education

PENERAPAN PETA KONSEP DENGAN MENGGUNAKAN MICROSOFT POWER POINT DALAM PEMBELAJARAN SAINS

pada September 28, 2008

oleh: Rahmat Saripudin

Salah satu prinsip pembelajaran dalam Kurikulum 2004, atau dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi ialah pembelajaran yang berpusat pada siswa . Prinsip ini dikenal dengan istilah student center. Prinsip pembelajaran student center perlu dipertegas dalam KBK karena diharapkan dapat mengubah pola pembelajaran yang selama ini diterapkan sebagian besar guru yaitu teacher center. System pembelajaran student center didasarkan atas sebuah asumsi bahwa pembelajaran yang sebenarnya ialah siswa memiliki pengalaman belajar. Pengalaman belajar pada siswa berarti siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Dalam konteks ini siswa bukan lagi sebagai objek dalam pembelajaran. Namun lebih berperan sebagai pelaku proses pembelajaran.
Dalam penerapannya system pembelajaran yang berpusat pada siswa perlu memperhatikan aspek-aspek pembelajaran yang lain misalnya peningkatan minat belajar dan kreativitas. Minat belajar merupakan salah satu permasalahan dalam proses pembelajaran sains. Sebagian besar siswa memandang pelajaran sains bersifat membosankan karena bersifat monoton. Padahal pembelajaran sains memiliki potensi untuk dikembangkan dalam bentuk yang variatif.
Dalam kerangka peningkatan kreativitas Tony Buzan (2004) menyarankan digunakan mind map. Penerapan konsep mind map dalam pembelajaran telah cukup lama diterapkan dalam bentuk concept map (peta konsep). Di Indonesia sendiri penelitian terhadap penerapan peta konsep telah berlangsung cukup lama.
Asumsi yang digunakan dalam peta konsep ialah dari teori kognitif yang menyatakan bahwa keterkaitan erat antar satu konsep dengan konsep lain merupakan hal yang sangat penting dalam membangun sebuah pengetahuan . Keterkaitan antar sebuah konsep dengan konsep-konsep yang lain disebut dengan proposisi. Apabila sebuah proposisi dibangun dalam bentuk sebuah pengorganisasian antar konsep sesuai dengan arti hubungannya masing-masing maka disebut dengan peta konsep .
Peta konsep disusun berdasarkan hubungan antar konsep dalam sebuah pokok bahasan. Biasanya sebuah peta konsep dibuat per bab. Dalam sebuah peta konsep, keterkaitan antara sebuah konsep-dengan konsep lain disusun secara bermakna sehingga membentuk proposisi. Dalam proposisi, sebuah konsep yang memiliki makna yang lebih luas diletakan diatas.
Dengan menggunakan peta konsep ini dalam pembelajaran maka dapat diperkirakan kedalaman dan keluasan konsep yang perlu diajarkan kepada siswa. Sesuai dengan teori asosiatif, kaitan konsep yang satu dengan konsep yang lain ini bagi siswa merupakan hal yang penting dalam belajar, sehingga apa yang dipelajari oleh siswa akan lebih bermakna, lebih mudah diingat dan lebih mudah dipahami, diolah serta dikeluarkan kembali bila diperlukan.
Untuk membuat peta konsep, menurut Rusmansyah ada beberapa langkah yang harus diikuti , yaitu :
1. Menentukan konsep-konsep yang relevan
Mengurutkan konsep-konsep dari yang paling umum ke yang paling tidak umum (khusus) atau contoh-contoh.
2. Memilih referensi
Referensi dicari yang sesuai dengan konsep-konsep yang telah ditentukan.
3. Menyusun/menuliskan konsep-konsep itu di atas kertas.
Memetakan konsep-konsep itu berdasarkan kriteria: konsep yang paling umum di puncak, konsep-konsep yang berada pada tingkatan abstraksi yang sama diletakkan sejajar satu sama lain, konsep yang lebih khusus di bawah konsep yang lebih umum.
4. Menghubungkan konsep-konsep itu dengan kata penghubung tertentu untuk membentuk proposisi dan garis penghubung.
5. Jika peta sudah selesai, perhatikan kembali letak konsep-konsepnya dan kalau perlu diperbaiki atau disusun kembali agar menjadi lebih baik dan berarti.

Dengan kemajuan di bidang Teknologi Komunikasi dan Informasi (TKI) maka sebuah peta konsep dapat dibuat secara terpadu dengan TKI. Dengan berkembangnya pemakaian komputer di masyarakat dan di sekolah-sekolah maka pembelajaran dengan berbantuan komputer menjadi relevan.
Hal tersebut menjadi penting, mengingat bidang studi sains bagi sebagian besar siswa di Indonesia merupakan pelajaran yang kurang banyak digemari. Hal ini kemudian berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa. Kurangnya minat siswa dalam mempelajari bidang studi sains tentu menjadi cambuk bagi para pendidik untuk mencari upaya agar anak didiknya peduli dan mau mempelajari sains.
Dengan sedikit modifikasi penggunaan peta konsep disertai dengan multi media maka sebuah konsep akan menjadi lebih mudah masuk ke dalam ingatan siswa. Dalam Microsoft powerpoint bisa dibuat hyperlink sehingga hubungan antar konsep dapat diperjelas dan siswa yang memiliki daya tangkap lambat dapat mempelajarinya secara mandiri serta lebih mendalam.
Dengan diterapkannya pembelajaran berbasis peta konsep yang menggunakan Microsoft powerpoint maka diharapkan proses pembelajaran akan lebih bermakna mengingat siswa secara aktif dan mandiri memelajari konsep-konsep dan hubungan antar konsep. Selain itu dengan memadukannya dengan pembelajaran berbantuan computer dalam format multimedia maka pembelajaran diharapkan akan menarik sehingga meningkatkan minat belajar siswa.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: