Rahmat Saripudin's Weblog

for Better Education

PENGEMBANGAN STRATEGI PEMBELAJARAN

pada September 26, 2008

Analisa terhadap buku: School Learning and Cognitive Style, karya Richad Riding

oleh: Rahmat Saripudin

Strategi Pembelajaran

Dalam buku School Learning and Cognitive Style dinyatakan bahwa Cognitive style (dalam bukunya Riding menghubungkan cognitive style sebagai learning style[1]) telah ada secara alami. Gaya belajar (learning style) berhubungan dengan bagaimana orang menyerap informasi (modalitas) serta bagaimana mengatur dan mengolah informasi tersebut[2].

Berbeda dengan cognitive style, menurut Riding, strategi pembelajaran masih dapat dikembangkan. Fungsi pengembangan strategi pembelajaran ialah untuk membantu siswa dalam situasi dimana style mereka secara alami tidak sesuai dengan pembelajaran yang sedang dilakukan. Dalam situasi pembelajaran dimana style cocok dengan pekerjaan, individual akan menemukan pembelajaran yang relatif lebih mudah. Bagaimanapun jika pekerjaan berbeda dengan tipe style-nya, individu akan menemukan pembelajaran yang lebih menyulitkan. Ketika belajar memerlukan lebih banyak gambar, analytic akan memiliki kesulitan dalam melihat gambar besar. Ketika materi lebih banyak verbal kemudian imagers mungkin akan mengalami kesulitan.

Siswa membutuhkan dorongan untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang memungkinkan mereka untuk menggunakan style mereka secara efektif mungkin. Berikut ini contoh strategi yang mungkin dapat digunakan untuk menolong individu mengakomodasikan situasi dan pembelajaran ke dalam style-nya.

Imagers mungkin ”mengubah” halaman text ke dalam diagram yang menunjukan informasi yang sama dalam bentuk visual

Verbalisers mungkin menggambarkan gambar dengan kata-kata

Analytic membutuhkan gambaran ”utuh” dari topik mungkin peta bagian-bagian dalam kertas yang besar.

Wholist mungkin menyelesaikan satu bagian dari sebuah buku dan menggarisbawahi yang diterima dalam indikasi struktur.

Apabila Riding membagi cognitive style dalam dua dimensi yaitu imagers-verbalisers dan analytic-wholist, DePorter membagi gaya belajar berdasarkan modalitas belajar yaitu visual, auditorial dan kinestetik[3]. Orang-orang dengan modalitas belajar visual lebih mudah belajar dengan cara melihat. Mereka yang bertipe auditori lebih nyaman belajar dengan cara mendengar sedangkan tipe kinestetik belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh. Dalam mendesain sebuah pembelajaran, Dave Meier menyarankan agar menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua indera pada pembelajaran agar diperoleh hasil belajar yang optimal[4].

Berbeda dengan Riding (2002) dan DePorter (1999), Santrock (2001) membagi learning and thinking style dalam 3 dikotomi: field dependent/independent style, impulsive/reflective style dan deep surface style[5].

1) Field dependent/independent style: berhubungan dengan dominasi lingkungan terhadap persepsi siswa. Siswa yang persepsinya didominasi oleh lingkungan disebut dengan Field dependent style. Sedangkan yang persepsinya tidak didominasi oleh lingkungan sekitar disebut dengan Field independent style.

2) Impulsive/reflective style: berhubungan dengan sejauh mana siswa bereaksi secara cepat atau membutuhkan beberapa waktu untuk memberikan respon secara akurat terhadap jawaban.

3) Deep surface style: pendekatan materi pembelajaran dengan jalan memahami arti materi (deep style) atau secara sederhana apa yang dibutuhkan untuk belajar saja (surface style).

Pembentukan Strategi Pembelajaran

Pengembangan strategi pembelajaran akan berhubungan antara interaksi karakteristik siswa dengan aktivitas belajar. Pengembangan Strategi pembelajaran mengandung tiga tahapan[6]:

  • Penginderaan dan Persiapan
  • Pemilihan
  • Pembentukan Strategi Pembelajaran

1) Penginderaan dan Persiapan

Ketika berhadapan dengan situasi belajar, individu akan merasakan dalam hatinya ke tingkat yang terasa nyaman dengan situasi tersebut. Siswa akan respek paling tidak terhadap 3 aspek situasi belajar:

Model presentasi pembelajaran

Struktur pembelajaran

Konteks sosial pembelajaran

Ridding dan Watts (1997) melakukan studi pada siswa usia SMP dengan membuat lembar belajar dalam 3 model yang berbeda. Yaitu; unstructured-verbal (paragraf tanpa heading), structured-verbal (paragraf, masing-masing dengan clear heading), dan structured-victorial (paragraph, masing-masing dengan clear heading, dan icon gambar-gambar yang melukiskan aktivitas diletakan di sebelah kiri). Hasilnya tidak ada siswa yang memilih versi unstructured-verbal. Dengan dua versi struktur, mayoritas verbalisers memilih versi verbal dan sebagian besar imagers memilih versi yang bergambar.

Kepatutan Struktur

Studi yang dilakukan Riding dan Staley menggambarkan keseusian antara structural requirements dari materi ajar dan wholist-analytics style dari siswa.

Kecocokan Situasi Sosial

Hasil studi Riding dan Read (1996) menunjukan bahwa bekerja dalam group sebagian disukai oleh wholists, sementara itu bekerja individual sedikit tidak disukai oleh analytics. Sebagai seorang Guru, dalam menghadapi tipe pemelajar seperti apapun hendaknya berusaha mengajarkan murid agar mau dan nyaman belajar secara berkelompok. Silberman (2004) menyatakan bahwa pembelajaran berkelompok memungkinkan siswa untuk mendapatkan dukungan emosional dan intelektual yang melampaui ambang pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki sekarang[7].

2) Pemilihan

Studi yang telah dilakukan oleh Riding dan Read (1996) menunjukan bahwa Imagers menggunakan sedikit tulisan dan lebih banyak gambar dibanding verbalishers. Kecenderungan imagers menggunakan gambar dan verbalisers menggunakan tulisan meningkatkan kemampuan. Siswa membutuhkan dorongan untuk menggunakan apapun yang menurutnya benar secara individual.

3) Pembentukan Strategi Pembelajaran

Ada tiga jenis strategi yang memberikan kontribusi untuk peningkatan pembelajaran dengan menggunakan style. Strategi ini menggunakan fungsi yang berbeda yaitu translation, adaptation dan pengurangan beban proses[8]:

Translation

Dengan mengubah model presentasi untuk sesuai dengan dimensi verbal-imagery. Untuk langsung, verbalisers dapat mengubah informasi bergambar ke dalam kata-kata, dan imagers dapat mengubah kata-kata ke dalam ilustrasi atau diagram.

Dengan menggunakan external representation. Wholists dapat mendorong untuk memecah konsep umum ke dalam titik khusus. Analytics mungkin membantu seting informasi diluar sheet dalam bagian dan mengubah kembali ke dalam struktur keseluruhan. Jika Seseorang termasuk analyytic maka mereka memiliki kesulitan dalam melihat keseluruhan pekerjaan atas situasi. Mereka dapat disorong untuk mengembangkan strategi pemetaan di luar sheet , yang akan mengizinkan mereka melihat semua bagian sebagai satuan dari sebagian aspek.

à Wholist mungkin memulai chapter sebuah buku dan mengurutkan headings untuk memberikan indikasi struktur

à Analytic mungkin akan meng-set bagian-bagian topik dalam sheet untuk memberikan gambaran ”keseluruhan”.

Adaptation

Verbal-imagery merepresentasikan seringkali ke dalam oelayanan menolong dengan batas-batas individu dalam dimensi wholist-analytic. Untuk langsung, analytyc-imagers nyata-nyata tidak memiliki fasilitas sebagai wholist untuk mendapatkan gambaran situasi atau informasi.

Beberapa adaptasi yang mungkin dapat dilakukan ditunjukan dalam tabel berikut:

Jenis

Cognitive Style

Style yang mungkin dengan adaptasi

Complementary

Wholist verbalisers

Wholist and analytic

Analytic imagers

Analytic and wholists

Unitary

Analyitc verbalisers

Analytic only

Wholist imagers

Wholist only

Pengurangan Beban Proses

Pendekatan ini untuk meminimalisir beban proses dengan menggunakan strategi yang ekonomis selama proses. Beberapa conoth strategi untuk mengurangi beban ialah:

Imagers yang menemukan proses verbal dapat memilih teks dan mengambil hanya bagian yang penting untuk disimpan

Wholist dapat menggarisbawahi kata-kata dalam text untuk menghasilkan ”headings” untuk mengklarifikasikan struktur.

Pengembangan pembelajaran individual menggunakan presentasi komputer multimedia memberikan kemungkinan peningkatan rerata prestasi siswa[9]. Meier menyarankan agar dalam penggunaan komputer sebagai alat bantu belajar hendaknya bersifat[10]:

1) Kolaboratif

2) Kaya pilihan

3) Berdasarkan aktivitas

4) Berpusat pada Masalah

5) Kreatif

Berbeda dengan Riding, Dave Meier membagi tahapan pembelajaran dalam 4 tahap yaitu: persiapan, penyampaian, pelatihan dan penampilan hasil[11].

6) Tahap Persiapan; pada tahap ini berisi bagaimana menimbulkan minat para pemelajar, memberi mereka perasaan positif mengenai pengalaman yang akan datang dan menempatkan mereka dalam situasi optimal untuk belajar.

7) Tahap Penyampaian; membantu pemelajar menemukan materi belajar yang baru dengan cara yang menarik, menyenangkan, relevan, melibatkan panca indera dan cocok untuk semua gaya belajar.

8) Tahap Pelatihan; membantu pemelajar mengintegrasikan dan menyerap pengetahuan dan keterampilan baru dengan berbagai cara.

9) Tahap Penampilan Hasil; membantu pemelajar menerapkan dan memperluas pengetahuan atau keterampilan baru mereka pada hal-hal nyata sehingga hasil belajar akan melekat dan penampilan hasil belajar akan terus meningkat.

Untuk lebih meningkatkan hasil belajar John Holt (1967) dalam Silberman (2004) menyarankan agar siswa melakukan hal-hal berikut dalam proses belajar[12]:

1) Mengemukakan kembali informasi dengan kata-kata mereka sendiri

2) Memberikan contohnya

3) Mengenalinya dalam bermacam bentuk dan situasi

4) Melihat kaitan antara informasi dengan fakta atau gagasan lain

5) Menggunakannya dengan beragam cara

6) Memprediksikan sejumlah konsekuensinya

7) Menyebutkan lawan atau kebalikannya

Dengan berkembangnya teori kecerdasan, maka strategi pembelajaran hendaknya mengoptialkan potensi kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing individu belajar. Ada delapan (8) jenis kecerdasan yang digambarkan oleh Gardner (dalam Santrock, 2001), yaitu[13]:

1) Kecerdasan verbal; kemampuan untuk berpikir dalam kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan pengertian

2) Keserdasan Matematika; kemampuan untuk melakukan operasi matematika

3) Kecerdasan spasial; kemampuan untuk berpikir tiga dimensi

4) Kecerdasan kinestetik; kemampuan untuk menirukan objek secara fisik

5) Kecerdasan music; sensitivitas untuk membedakan nada-nada lagu

6) Kecerdasan interpersonal; kemampuan berinteraksi dengan orang lain.

7) Kecerdasan intrapersonal; kemampuan untuk memahami dirinya sendiri

8) Kecerdasan alam; kemampuan untuk mengamati alam sekitar dan memahaminya.

Menurut Armstrong (2002) tidak ada rangkaian atribut stándar yang harus dimiliki oleh seseorang[14]. Oleh karena itu orang mungkin saja tidak dapat membaca tetapi memiliki kecerdasan linguistik yang tinggi. Dengan demikian, teori kecerdasan majemuk menekankan keanekaragaman cara orang menunjukan bakat, baik dalam satu kecerdasan maupun antar kecerdasan.



[1] Riding, Richard. “School Learning and Cognitive Style”. David Fulton Publisher, London – 2002. p.ix

[2] DePorter, Bobbi., Mike Hernacki. “Quantum Learning”. Kaifa. Bandung – 1999. p.110

[3] ibid. p. 113.

[4] Meier, Dave. “The Accelerated Learning, handbook.” Kaifa. Bandung – 2002. p. 91.

[5] Santrock, John W. “Educational Psychology”. Mc Graw Hill. New York – 2001. p. 145 – 148

[6] Riding, Richard. Op. Cit.. p. 101

[7] Silberman, Melvin L. “Active Leraning, 101 Cara Belajar Siswa Aktif”. Nusamedia. Bandung – 2004. p. 24.

[8] Riding, Richard. Op. cit. p. 103

[9] ibid p. 106

[10] Meier, Dave. “op cit. p. 245-246

[11] Meier, Dave op cit. p. 106 – 109.

[12] Silberman, Melvin L. Op. Cit. 19.

[13] Santrock, John W. op cit. p. 130

[14] Armstrong, Thomas. “Sekolah Para Juara”. Kaifa. Bandung – 2002. p. 18


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: